Mbah Mangun Semi :
Beliau adalah merupakan sesosok figur di belakang layar yang tidak bisa diabaikan peranannya dalam pembentukan "Komunitas Mangun Semi". Meski tidak secara langsung membidani lahirnya komunitas, namun kini pria berwajah teduh yang telah memasuki usia 70-an ini merupakan simbol 'pemersatu' para anak-anak muda pelaku kesenian & kebudayaan yang kemudian berhasil dihimpun dalam satu komunitas. Barangkali tanpa kesabarannya dalam 'ngemong' masing-masing individu yang umumnya egonya begitu tinggi, kemungkinan besar komunitas ini tidak akan pernah bergaung namanya.
Cak Sur :
Lahir di Ponorogo, 1965. Lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Nusantara ini mempunyai kemampuan menulis yang cukup handal. Guratan penanya telah berhasil menelurkan beberapa judul buku. Ia sangat menguasai kesusasteraan Jawa. Kemampuan lain pria yang tenang dan dingin ini adalah kemampuannya dalam mengolah suara melantunkan tembang-tembang Macapat. Kini ia tinggal di Kalasan.
Sri Kuncoro :
Lahir di Bantul, 1966. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Indonesia UGM ini memiliki banyak talenta di bidang kesenian & kebudayaan. Di dunia kepenyairan & dunia teater ia lebih nyaman berlindung di balik nama Ikun Eska. Selain menggawangi Komunitas Mangun Semi, masih banyak seabrek kesibukan lain yang digelutinya. Diantaranya menekuni dunia fotografer, menulis cerpen & menjadi tenaga pengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jogjakarta. Tinggal di Bantul.
Yugo Hendrolukito :
Lahir di Jatiwangi - Cirebon tahun 1964. Belajar menggambar secara otodidak. Lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UGM ini telah lama menekuni dunia seni rupa dan banyak menghasilkan karya. Karyanya berupa drawing, sketsa dan lukisan cat minyak. Bahkan mantan akuntan profesional di ibukota ini pernah mengikuti pameran seni rupa. Tahun 1991, mengikuti Pameran Bersama Kelompok Bulak Sumur. Tahun 1992, mengikuti Pameran Bersama Festival Kesenian Yogyakarta di Beteng Verdeberg. Saat ini sedang asyik bereksplorasi dengan kertas sebagai media seni rupa. Tinggal di Karangbendo, Yogyakarta.
Iman Sutejo :
Lahir di Yogyakarta, 19 Februari 1969. Meskipun lulusan Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Sejarah UGM ini belajar seni lukis secara otodidak, namun keseriusannya dalam menekuni bidang ini tidak diragukan lagi. Ia telah lama menekuni dan berkarya sehingga telah menghasilkan banyak karya seni lukis. Selain sketsa, karyanya berupa drawing maupun lukisan cat minyak. Minatnya di dunia seni tidak hanya dalam seni lukis, sewaktu kuliah pernah aktif di dunia teater dengan bergabung di Sanggar Shallahudin Yogyakarta, dan Teater Gadjah Mada. Ia berminat pula dalam kepenulisan, tulisannya sering dimuat dalam Buletin "HALTE" terbitan Kedai Kebun. Tinggal di Celeban UH III/249, Yogyakarta, e-mail : tedj2002@yahoo.com.
Riyono Nugroho :
Pria yang akrab disapa Inoe ini lahir di Majenang, 6 Mei 1979. Ia adalah personil termuda dalam komunitas. Lelaki yang hobbynya main gitar & mengidolakan Ariel Peter Pan ini sangat berbakat di dunia seni kriya. Kelenturan tangannya dalam menciptakan obyek kerajinan patut diacungi jempol. Seni merangkai properti adalah spesialisnya. Tinggal di Kalasan.
Hartono :
Lahir di Ngawi tahun 1970. Pria yang akrab disapa Gowell ini merupakan penulis yang handal. Sebagian besar karyanya berujud cerpen, yang pernah dibukukan dalam kumpulan cerpen pilihan bersama karya-karya penulis muda Yogya lainnya. Selain itu pria penyuka game ini asyik berkutat di dunia rancang bangun gedung alias menjadi arsitek. Saat ini ia masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Arsitektur di UTY. Tinggal di Yogyakarta.
Sudjito :
Lahir di Bantul tahun 1968. Lulusan Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi UGM ini menggeluti seni fotografi sejak awal kuliah. Ia belajar seni fotografi secara otodidak. Bakatnya terasah secara alami, dengan semakin banyaknya ia mengambil berbagai obyek yang dibidiknya. Hingga saat ini ia telah menghasilkan banyak karya fotografi berbagai tema, yang sebagian besar dijadikannya koleksi pribadi. Kini ia bekerja menjadi wartawan olah raga di Harian Bernas. Tinggal di Bantul.
Budi Gawer :
Lahir di Yogya, 1975. Ia banyak belajar seni fotografi dari para seniornya di komunitas. Berkat usaha kerasnya, kini kemampuannya dalam membidik obyek foto telah semakin terasah. Hingga sekarang, pria penggemar Darwis Triadi ini telah menghasilkan banyak karya. Kini ia bekerja menjadi tenaga fotografi di Callista. Tinggal di Demangan, Jogja.
Fajar Nugroho :
Lelaki yang berwatak humoris ini lahir di Wonosari, 1969. Alumnus arkeologi UGM yang kerap disapa Sulik ini sangat berbakat di dunia design grafis. Namun ia tidak melupakan ilmu yang sempat ditimbanya saat kuliah, yaitu ilmu arkeologi. Ia sangat menguasai, kalau boleh disebut expert, dalam hal seluk beluk pengetahuan tentang situs-situs kuno & candi. Tinggal di Wonosari.
|
|
Nuruddin Asyhadie :
Lahir di Mojokerto, 27 Februari 1976. Alumnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Kini bersama beberapa teman mengelola majalah film F. Terlibat dalam berbagai pementasan Kelompok Doyan Kerja Surabaya, Sanggar Shalahuddin Yogyakarta, Pabrik Tontonan Yogyakarta, Teater Kail Jakarta, baik sebagai penulis naskah, aktor, ko-sutradara, maupun tim produksi. Naskah drama yang telah ditulisnya: Angin Lalu (1993), Sastra Jendra (1996), Love Underasure (Cinta di bawah Karet Penghapus) (2003). Beberapa kali memenangkan lomba penulisan puisi seperti Nominasi Kejuaraan 5 Puisi Kategori Nominasi Lomba Cipta Puisi Remaja, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) dan Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS), 1992, Pemenang Ketiga Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia, Teater Kene, Tabanan Bali, 1993, Sembilan Puisi Terbaik Lomba Cipta Puisi Perdamaian Art and Peace, Wianta Foundation, Bali (1999). Sajaknya masuk sebagai finalis North American Open Poetry Festival dan mendapatkan Editor's Choice Award For Outstanding Achievement in Poetry (2000). Menulis di berbagai media di Indonesia dan Malaysia (Kompas, Media Indonesia, Republika, Satria). Sajak-sajaknya terkumpul dalam Menyingsing Fajar (Teater Kene, 1993), Fasisme (Kalam Elkama, 1996), "Bullshit Milenium!" (Pabrik Tontonan, 1999), Dewdrops at Dawn (International Library of Poetry, 2000), Grafiti Gratitude ( Yayasan Multimedia Sastra 2001). Antologi tunggalnya Beatniks (Bumi Manusia, 2001). Selain itu juga menerjemahkan The Art of Novel Milan Kundera (Djalasutra, 2002) dan Percakapan dengan Tuhan karya Neale Donald Walsch, (Jendela, 2002). Bukunya yang lain adalah Hampiran Hamparan Gramatologi Derrida (LKiS, 2004), sebuah kritik terhadap terhadap dekonstruksi Derrida atas filsafat sejarah dan sejarah filsafat.
Alamat: Perumahan Villa Dago, Alam Asri I Blok H7 No. 2, Pamulang, Tangerang. Telp/Fax: (021)74634832, HP: 08176014272 e-mail: nuruddin.asyhadie@gmail.com
Birul Sinari-Adi :
Lahir di Klaten, 1968. Belajar menggambar secara otodidak dengan kebiasaan corat-coret waktu sekolah dengan membuat coretan di buku tulis maupun di ruang kosong buku pelajaran. Kebiasaan ini sempat memberinya gagasan untuk melanjutkan ke pendidikan formal seni rupa selepas SMA-nya. Namun selepas SMA, rencana itu akhirnya tidak jadi ia laksanakan karena menyadari dan menilai dirinya sendiri bahwa nilai menggambarnya hanya enam. Tapi kebiasaan corat-coret tetap berlanjut dengan irama dan keseriusan yang timbul tenggelam. Waktu kuliah sempat menjadi staf artistik buletin intern jurusan. Semangat untuk lebih serius menggambar muncul lagi karena "kecelakaan" ketika tinggal di Bali. Pernah kuliah di ABA dan lulus dari Fakultas Sastra UGM. Tinggal di Yogyakarta.
Muh. Sholikin :
Lahir di Klaten, 1969. Belajar melukis dan drawing secara otodidak. Namun lulusan Fakultas Sastra Jurusan Antropologi UGM ini pernah merencanakan untuk belajar melukis secara formal, sayangnya gagal masuk ISI Yogya. Ia telah lama menekuni dan berkarya dalam seni rupa, terutama sketsa. Karyanya yang lain berupa drawing dan lukisan cat minyak. Ia juga memperhatikan pengembangan seni bagi anak-anak dan pernah aktif di beberapa LSM. Tahun 2001-2002 berkerja sebagai field staff pada sebuah NGO untuk bidang penelitian, komunikasi, publikasi, seni dan budaya di Yogya. Pernah pula dipercaya membina sanggar anak di Pacitan, Jawa Timur. Tahun 2002 menjadi peserta training "Trains of Civic Education for Future Indonesian Leader". Tinggal di Yogyakarta.
Rudy Heru Sutedjo :
Lahir di Dlimas, Ceper, Klaten, 1968. Lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Nusantara UGM ini mempunyai talenta yang sangat kuat di bidang seni peran. Dunia teater adalah pilihan hidupnya. Pria simpatik yang berpenampilan 'cool' ini telah puluhan kali pentas ke banyak kota. Dia sangat total dalam menggeluti seni peran ini. Ia pernah punya obsesi yang cukup unik, yaitu ia ingin populer & dikenal prestasinya bukan melebihi seseorang tokoh namun ingin terkenal melebihi sebuah tempat yaitu daerah Nagrek, suatu tanjakan di daerah Garut yang sangat terkenal & diberitakan setiap hari di TV saat arus mudik memuncak di hari lebaran. 'Enjoy your live & easy going', begitu motto hidupnya. Tinggal di Yogya.
Agus LK :
Lahir di Wonosari, 1969. Alumnus Fakultas Hukum UGM ini bertalenta di bidang seni design grafis. Sudah sejak lama lelaki kurus langsing ini menekuni dunia sablon & percetakan. Kepintarannya dalam mengolah software grafis ditambah daya imaginasinya yang luar biasa membuat karya desainnya menjadi begitu memikat & bercita rasa tinggi. Tinggal di Wonosari.
Sigit dJatmiko :
Lahir di Ngawi, 1970. Alumnus fakultas Filsafat ini sangat berbakat di dunia tulis menulis. Dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang jauh di atas rata-rata, membuat ia sangat produktif di bidangnya. Karya-karya terjemahannya bejibun saking banyaknya & hampir semuanya berkualitas. Kini dia tinggal di Jakarta.
Goespoer :
Figur yang satu ini sebenarnya tidak mempunyai bakat sama sekali di bidang kesenian. Namun jangan sekali-sekali meremehkan kemampuan sebenarnya! Meski kalau dilihat sekilas fotonya memang mirip tukang pijit tuna netra berijazah, namun bakatnya dalam merancang website membuat komunitas ini bisa dengan gagah mengibarkan namanya ke seantero jagad. Ia oleh rekan-rekannya dijuluki Pendekar Web Tanpa Tanding. Tinggalnya tidak menetap, hidup sebagai nomaden & bohemian di Yogya, entah bahagia entah tidak!
|