|
|
 |
 |
 |
|
|
Dalam tradisi seni rupa, sketsa bisa disikapi sebagai goresan dasar yang akan dijadikan ancangan sebuah lukisan. Sketsa juga bisa dianggap sebagai upaya pelatihan seorang perupa dalam menjaga kelenturan tangan dalam menorehkan garis. Sebagai sebuah karya seni, sebenarnya sketsa telah sanggup berdiri sendiri, justru ketika sketsa sanggup memadukan antara kemampuan menangkap impresi dan keluwesan garis spontan yang diciptakan.
Ketika sketsa telah menjadi karya yang selesai maka ia hadir sebagai sebuah model komunikasi. Ia merangkum gejala, mereproduksinya dan menghadirkan ulang. Sebagai serentetan gejala tanda-tanda, sketsa, dalam bingkai semiotik berlaku sebagai tanda yang bernilai indeksis. Sketsa menghadirkan hal-ihwal dalam repliknya, bukannya tanda yang bernilai ikonik atau kemiripan. Melihat kemampuan sketsa yang seperti itulah maka sebagian personil Komunitas Mangun Semi memilih media sketsa sebagai salah satu cara berekspresi.
Keempat personil Komunitas Mangun Semi, yaitu Yugo Hendrolukito, Birul Sinari-Adi, Iman Sutejo & Muh Sholikin, dalam rentang waktu yang relatif singkat telah melahirkan banyak karya. Sekitar 100 buah sketsa, mayoritas bertema Kali Code, telah tercipta lewar goresan mata pena keempat artisnya. Masing-masing artis dengan keunikan dan gayanya sendiri-sendiri, mampu menghadirkan nuansa mendalam tentang pernak-pernik kehidupan keseharian meskipun hanya secara hitam putih. Barangkali karya-karya berikut ini bisa mewakili bagaimana setiap artis mengekspresikan perasaan & mengeksplorasi talenta mereka.
|
 |
 |
|
"Burung Dara", Yugo Hendrolukito, ink on paper, 33 cm x 21,5 cm
|
 |
 |
|
"Lanskap Sayidan", Iman Sutejo, ink on paper, 33 cm x 21,5 cm
|
 |
 |
|
"Ngopi Sore", Birul Sinari-Adi, ink on paper, 33 cm x 21,5 cm
|
 |
 |
|
"Dua Pemuda", Muh. Sholikin, ink on paper, 33 cm x 21,5 cm
|
|
 |
|
 |
|