|
|
 |
| Membaca Teks Sosial Lewat Teks Visual | | Oleh: Birul Sinari-Adi - biruls@yahoo.com |  | "Ini dimaksudkan sebagai bagian dari seni rupa atau kajian sosial?" Begitulah kira-kira pertanyaan yang terlontar saat diskusi preview pameran sketsa oleh Komunitas Mangun Semi yang bertempat di Joglo Jaran Yogya. Atau contoh pertanyaan lainnya, "Kenapa sketsa?" (dan bukan fotografi untuk menggambarkan realitas kehidupan di sepanjang sungai Code?- pen.). Pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul bukan saja karena sketsa sebagai sebuah genre dalam seni rupa-yang mirip anak tiri-lebih dianggap dan paling sering digunakan untuk menggambarkan atau sebagai pendokumentasi kehidupan sosial. Bahkan pertanyaan yang dikutipkan untuk mengawali tulisan ini dilontarkan penanya tanpa terlebih dahulu melihat sketsa-sketsa yang dipajang di tempat diskusi. Hal yang tampak mengejutkan ini bisa dimengerti dan lebih terjelaskan karena yang menjadi objek sketsanya adalah kehidupan di sepanjang sungai Code dan diskusi itu sendiri diadakan dan dihadiri oleh orang-orang yang tinggal di Yogyakarta, sebuah tempat dan masyarakatnya yang sudah saling mengenal.
Bagi masyarakat Yogya nama sungai Code begitu terdengar akrab di telinga mereka. Begitu akrabnya sampai si penanya langsung menanyakan niatan Komunitas Mangun Semi mengadakan pameran sketsa sebagai tujuan seni rupa atau sosial. Sebagai salah satu sungai yang membelah kota Yogyakarta, sungai Code memang tepat berada di tengah kota, dengan tingkat hunian masyarakat yang tinggal di pinggirnya juga lebih padat dan kompleks di banding sungai lainnya. Masyarakat Yogya atau yang mengenal sungai Code bisa jadi punya gambaran dan fiksinya sendiri tentang kehidupan masyarakat yang tinggal di pinggirnya. Namun pada umumnya gambaran tunggal yang biasa muncul saat nama sungai Code disebut, yaitu kekumuhan dan kemiskinan atau gambaran lain tentang masyarakat yang berada dalam posisi marginal. Dan pada kenyataannya kehidupan di sepanjang sungai Code sendiri sangat beragam. Masing-masing wilayah punya karakter fisik tertentu dan sifat warganya yang bisa sangat berbeda dengan warga wilayah lain.
Kenyataan ini pula yang menjadi salah satu dasar pertimbangan kenapa Komunitas Sketsa Mangun Semi mengambil kehidupan di sepanjang sungai Code sebagai objek untuk sketsanya. Dengan mengambil batasan wilayah dari ring road utara sampai ring road selatan, kehidupan sungai Code yang menjadi objek sketsa benar-benar berada di wilayah tengah kota yang memang padat. Dengan asumsi ini maka diharapkan dapat mengambil obyek-obyek sketsa yang beragam, yang secara teknis bisa menjadi tantangan dari segi artistik dan dari pengalaman jiwa juga jadi lebih mengenal kehidupan yang memang sangat beragam.
***
Komunitas Mangun Semi sendiri menyelesaikan sketsa-sketsanya hampir selama empat bulan lebih. Selama empat bulan itu Komunitas Mangun Semi minim tiga hari dalam seminggu berkunjung ke wilayah pinggiran sungai Code, berbaur dan berinteraksi dengan penduduk yang ditemui. Sungguh menarik berada di sepanjang pinggiran sungai Code. Banyak hal yang bisa dilihat, mulai dari bentuk fisik bangunan seperti rumah-rumah yang menempati kontur tanah yang berbeda ketinggian, juga lorong-lorong sempit antar rumah yang terbentuk karena padatnya bangunan sampai aktivitas masyarakatnya yang beragam.
Memang masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai Code kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah atau bahkan para warga yang dianggap sebagai golongan marginal yang hidup dari kerja kasar dan kotor bahkan dekat dengan dunia hitam. Sungai Code sendiri karena membelah kota Yogya tepat di tengah, membentang dari utara sampai selatan dan melewati wilayah yang masih kosong penduduk sampai pusat aktivitas perekonomian kota, menciptakan warga penghuni pinggiran sungai Code dengan profesi maupun karakter serta sifat yang berbeda-beda, tergantung di mana mereka tinggal.
Menyusuri sungai Code, baik lewat sisi barat maupun timur-meski di beberapa tempat tidak memungkinkan dan harus mengambil jalan membelok yang agak jauh dari pinggir sungai-akan melihat semua itu. Beragamnya penghuni pinggiran sungai Code dan karakter serta sifat mereka yang berbeda juga bisa dilihat dari kelengkapan fasilitas umum yang tersedia di wilayah tertentu, juga pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungannya.
Tengoklah sketsa Menunggu Kekasih, MCK Berhati nyaman, Antri Mandi, Arena Permainan, Liebel, Cuci Badan, Mandi, Beol dan Mencuci, di mana kebutuhan manusia yang hampir sama tapi difasilitasi sarana yang berbeda dan dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Dalam Menunggu Kekasih terlihat seorang sedang buang hajat di sungai tanpa risih bahkan dengan ditunggui kekasihnya. Sementara dalam Antri Mandi terlihat dengan sabar orang yang antri untuk ke kamar mandi, yang mungkin nantinya untuk melakukan aktivitas yang sama dengan orang dalam sketsa Menunggu Kekasih.
Masing-masing orang itu bisa jadi tidak bisa saling bertukar peran, karena memang keduanya memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Masing-masing bisa jadi telah nyaman dengan peran yang dijalaninya. Orang dalam sketsa Menunggu Kekasih memang sepasang gelandangan. Cerita setelah peristiwa yang terekam dalam sketsa itu adalah si wanitanya kemudian mandi (telanjang, dengan tetap ditunggui kekasihnya), setelah itu terlihat keduanya berjalan di jembatan Kewek dengan mesra dan saling bercanda, dan lantas menuju ke arah Malioboro. Sementara dalam Antri Mandi orang yang terlihat adalah dua remaja putri dengan segala atribut model pakaian seperti layaknya remaja sekarang, yang juga sering terlihat berjalan-jalan di pusat pertokoan. Entah siangnya mereka dari mana dan beraktivitas apa, yang jelas ketika mereka akan mandi pun terlihat mereka masih mengenakan pakain yang menjadi mode sekarang ini, dengan posisi duduk yang kemudian memperlihatkan punggung dan bahkan celana dalamnya, menunjukkan mode pakaian dengan kaos kecil ketat dan model celana panjang yang mirip kepunyaan Britney Spears.
Lewat sketsa Ngopi Sore, Momong di Tepi Sungai, Pertanian Alternatif, Diskusi, Ruang Publik Anak, Demi Sesuap Nasi, terlihat aktivitas yang beragam yang dilakukan di sepanjang pinggiran sungai Code. Pinggir sungai bisa menjadi sarana untuk bersantai, bersosialisasi, bermain dan bahkan untuk sarana mencari uang atau kebutuhan hidup tampak dalam sketsa-sketsa itu.
Pengalaman lapangan juga menunjukkan betapa beragamnya sifat dan karakter warga di sepanjang sungai Code, juga fasilitas dan keadaan fisik sepanjang sungai Code sendiri. Selama menyusuri pinggiran sungai Code terkadang terlihat lebih banyak orang dewasa yang berkumpul atau beraktivitas, juga ada wilayah yang banyak sekali ditemui ibu-ibu sedang mengasuh anak sambil mengobrol dengan sesama ibu-ibu dan di beberapa tempat sangat jarang anak-anak, sementara di tempat lain sangat banyak anak-anak, juga tanggapan anak-anak sendiri ketika melihat orang menggambar. Di wilayah dengan lingkungan fisik tertenu, katakanlah lebih tertata dan tampak bersih, tanggapan anak-anaknya tampak lebih aktif dan positif, baik buat yang menggambar maupun anak-anak itu sendiri. Meskipun keterkaitan ini tidak bisa jadi ukuran dan masih butuh penelitian, tapi paling tidak begitulah yang terasakan di lapangan. Anak-anak di wilayah ini bahkan dengan antusias ikut menggambar ketika mereka diberi kesempatan untuk bersama-sama menggambar. Sementara anak-anak di wilayah yang tertentu mempunyai tanggapan yang lebih bersifat merecoki atau malah tidak begitu tertarik dengan aktivitas menggambar yang mereka lihat, mereka tampak lebih asyik dengan aktivitas sesama mereka sendiri. Kalaupun kemudian di antara mereka ada yang menanggapi aktivitas kami, mereka lebih meminta kami untuk membuatkan gambar daripada berinisiatif menggambar sendiri.
***
Sketsa-sketsa Komunitas Mangun Semi yang mengambil objeknya kehidupan sepanjang sungai Code ini telah di pamerkan di dua kota, yaitu di Yogyakarta sendiri serta Bandung, dan terakhir di Jakarta ini. Sebagai sebuah teks, sketsanya sendiri mendapat tanggapan yang sangat berbeda. Tanggapan di Yogyakarta dan Bandung seperti menjawab pertanyaan di awal tulisan ini. Kecenderungan untuk melihat sketsa sungai Code dari sisi sosial oleh publik Yogyakarta telah dijelaskan. Sementara publik Bandung yang lebih melihat sketsa sungai Code dari sisi seni rupa, bisa dijelaskan lewat dua hal. Pertama, publik Bandung yang kurang atau tidak mengenal sungai Code beserta realitas kehidupan yang ada di dalamnya. Kedua, ini sangat spekulatif, mungkin karena tradisi pemikiran seni rupa Bandung sendiri yang kurang kental dan kurang suka bergelut menggarap realitas kehidupan sosial, setidaknya bila di banding Yogyakarta.
Namun setidaknya, untuk kembali menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini, sketsa sebagai sebuah teks visual bisa dibawa dan ditafsirkan ke mana pun. Sebagai teks sosial ataupun teks visual, dalam arti sebagai genre seni rupa yang mandiri dan sejajar dengan genre seni rupa lainnya, sketsa memiliki bobotnya yang penuh dan bernilai tergantung pada diri manusianya. Baik itu perupanya, yang menciptakan sketsa sebagai hasil olah kreativitas estetik maupun olah rasa sosialnya terhadap kehidupan, serta publik yang melihat sketsa sebagai penanda estetik maupun sosial, yang masing-masing bisa memberi petandanya dan selanjutnya menjadi sebuah refleksi yang mencerahkan.
|  | | Tulisan untuk Kuliah Umum dan Pameran "Sketsa dan Realitas Masyarakat Daerah Aliran Sungai", 20-23 Oktober 2003 di Auditorium Universitas Paramadina, Jakarta
|
|
 |
|