Beranda Depan
Tentang Komunitas
Sejarah Perjalanan Komunitas
Personil Komunitas Mangun Semi
Gallery Karya Sketsa
Gallery Foto
Gallery Grafis
Urun Rembug
Buku Tamu
Kontak Kami
Memahami Dan Dipahami
Oleh: Muh. Sholikin
Code...
Saat itu kami sedang menggambar di pinggiran kali Code, dan seorang anak yang ikut menggambar sebuah botol tiba-tiba dihampiri seorang wanita tua yang berkata, "Botole ditulisi AO ben diombe bapakmu" (AO sejenis minuman beralkohol). Sepintas kalimat tersebut tidak lebih dari sekedar joke di tengah kehidupan tanpa pretensi apa pun. Di lain pihak bisa jadi suatu ungkapan yang mengandung maksud-maksud tertentu. Terlepas dari pengalaman nilai sebagai frame pemikiran awal, berbagai pertanyaan segera muncul di kepala berkaitan dengan maksud di balik ungkapan tersebut. Terserah siapa yang menerjemahkan, masing-masing punya mekanisme pengetahuan untuk memahami. Sebagaimana orang memahami kondisi sektor Code (sebuah kawasan sungai yang melintasi tengah kota Yogya sehingga terbelah menjadi dua) yang tampak, secara eksplisit, berupa perkampungan padat, bangunan rumah berjubel, bahkan ada yang berhimpit dengan sungai. Di dalamnya memuat simbol-simbol yang diciptakan sebagai wujud eksistensi mereka. Seperti istilah "Hollywood" yang punya konotasi khusus di kawasan Code, BALECO (Barisan Lembah Code) dan simbol-simbol lain yang berbau romantisme: "Jembatan Cinta" (nama jembatan). Bagi masyarakat setempat, fenomena di atas punya kekuatan makna yang terkait dengan identitas. Istilah yang ada menjadi indikasi untuk menyatakan sesuatu, sehingga ketika penghuni di ruas tertentu menyebut "Jembatan Cinta", para pendukungnya memahami sebagai tempat penyeberangan sekaligus berfungsi tempat kencan, bahkan dianggap sebagai media yang mampu menciptakan suasana harmonis antar wilayah yang terhubung dibanding sebelum dibangunnya jembatan ini.

Kenyataan di atas sebagai bagian dari kehidupan yang ada di antara ruas-ruas Code yang ditemui ketika Komunitas Mangun Semi sedang berada di lapangan. Interaksi secara langsung selama kurang lebih lima bulan di kawasan tersebut tidak sekedar membangun suasana akrab dengan warga tetapi sekaligus ikut merasakan suasana aware di tengah-tengah kehidupan mereka. Pada gilirannya warga secara sukarela ikut bersama-sama membaca Code termasuk yang diwujudkan dalam gambar anak-anak. Kerumunan warga yang berkumpul di tepi sungai bercanda ria bersama anak-anak, sesekali pedagang makanan lewat menawarkan dagangannnya hingga kegiatan antri mandi di pemandian umum, terasa sepanjang kawasan tersebut.

Peristiwa ini menjadi pengalaman bagi Komunitas Mangun Semi ketika hadir di tengah-tengah mereka. Kurang lebih selama lima bulan perjalanan menyusuri Code dari ring road utara hingga ring road selatan, membuka pandangan mata sekitar realitas kehidupan di dalamnya. Fase lapangan ini sangat berarti bagi Komunitas Mangun Semi selain proses pra-lapangan dan pasca-lapangan.

Secangkir Teh di Depan Teras
Pada bulan Januari, diskusi kecil tentang sketsa menjadi awal keberangkatan dari program sketsa Code bagi Komunitas Mangun Semi. Dalam sebuah acara minum teh di teras KB 23C, secara intuitif tiba-tiba datang ide tentang sketsa Code. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi diskusi hangat dari berbagai latar belakang bidang studi. Di antara mereka ada satu titik kesamaan yaitu punya tradisi menggambar. Kebiasaan tersebut dilakukan hampir di setiap tempat yang hasilnya ditumpuk begitu saja hingga bertahun-tahun.

Dari sanalah keberangkatan karya bersama ini dimulai. Bulan Februari di tahun yang sama, tepat satu bulan setelah dilakukan pembahasan tentang sketsa, Komunitas Mangun Semi baru bisa terjun di lapangan berjuang mencari sisi-sisi kehidupan di kali Code (dari ring road utara hingga ring road selatan). Kemudian dituangkan ke dalam karya visual berupa sketsa yang dilakukan secara spontan.

Elastis
Sebuah Aksi akan kehilangan arti tanpa disertai Refleksi. Nilai-nilai sebagai ruh pada karya sketsa menjadi permasalahan krusial yang perlu mendapat perhatian sehingga menghasilkan karya yang lebih bermakna. Ibarat sebuah makanan, tanpa bumbu penyedap, ia kehilangan rasa, hambar di mulut. Sebaliknya, sebuah karya yang disertai sentuhan nilai penghayatan mempunyai kandungan gizi, memberi manfaat bagi orang yang menikmati, untuk itu sajian sketsa di sini berusaha menempatkan semua pihak merasakan sensasi kenyataan yang ada serta tidak menutup kebebasan berimajinasi dan menginterpretasikannya.

Bagaimanapun juga, untuk mendukung harapan di atas, landasan pemikiran punya peranan penting. Ruang dialog menjadi kebutuhan bersama untuk memberi sentuhan meaningfull pada karya-karya yang dihasilkan. Tindakan refleksi menjadi bagian yang urgen untuk memperkaya imajinasi dan membangkitkan ketajaman intuisi. Sekalipun masih sebatas diskusi mingguan, Komunitas Mangun Semi merangkak ke arah itu. Pada sisi lain, diskusi preview 6-7 April di Joglo Jaran tidak lepas dari mekanisme aksi-refleksi. Kehadiran Leak, Primanto, Kris Budiman, Kirik Ertanto dan beberapa LSM menghasilkan catatan sebagai refleksi bagi Komunitas Mangun Semi, terutama dalam penguatan konten sketsa dan kepekaan menangkap core issue sebagai fokus. Melalui karya ini diharapkan citra, image, dan impresi yang ditangkap sekaligus diekspresikan lewat goresan mampu mengantarkan gagasan-gagasan dialogis. Dengan demikian untuk memahami suatu kehidupan tidak sekedar diwujudkan dalam seperangkat dalil (aksiomatik) yang implikasinya mengarah pada penjelasan deduksi-induksi dalam sistem konseptual. Ketepatan dan keakuratan bukan tujuan utama. Kepentingan yang mendasar adalah manfaat bagi perkembangan dan menghasilkan insight baru dalam seni dan budaya. Sudah semestinya, semua pihak yang berkepentingan berhak mencari keutuhan (koherensi) sebagai penopang sistem makna (semantis) baik pada level sadar maupun level nir sadar.

Tulisan untuk poster pameran "Jogja X Code : Sketsa = Pameran " (Pandangan Hitam-Putih Kali Code), 18-22 Agustus 2003 di Kantor Harian Bernas, Yogyakarta
2005 - 2010 © Komunitas Mangun Semi Yogyakarta. Designed By Gramaweb