|
|
 |
| KEBERSAMAAN Sanggar Dewata Indonesia | | Oleh: Ikun SK |  | Sembilan puluh empat perupa, sembilan puluh empat karya dan sebuah ruang yang luas: Galeri Socitet Yogyakarta ?gedung baru. Minggu (2/2/03) saya melihatnya jam sepuluh pagi tanpa AC yang hidup dan lampu galeri yang tulus menyala sehingga banyak karya yang tidak mendapatkan pencahayaan. (Front Desk pameran yang berjaga di buku tamu mengatakan tak bisa menyalakan lampu karena petugas galeri belum datang).
?Kebersamaan?, itulah tajuk yang diambil sebagai title oleh Sanggar Dewata Indonesia untuk pameran ulang tahun yang ke 32. Dan kebersamaan itu memang membayang di sana. Dari I Wayan Upadana yang kelahiran 9 September 1983 sampai I Nyoman Alim Mustapha yang kelahiran 13 Pebruari 1952, dari karya dua dimensi sampai karya tiga dimensi, dari gaya Made Sukadana sampai gayanya I Gusti Nengah Nurata, dari Megenjekan (I Putu Suardana), Mapayas ( I Komang Gede Teja Mulya), Penemu Pungkusan (I Gusti Ngurah Swastapa), hingga Negeri Demokrasi (I Nyoman Sukari), Menanti Semi (I Gusti Nengah Nurata), bahkan Melawan Bayangan Sendiri (I Ketut Gede Arya Parwita), dan Untitle (Gusti Alit), dari Acrylic on Canvas, tatah atau ukir kayu dan batu marmer, hingga print on paper dari kerja komputer dan instalasi tempat berak yang dihias cabe dan buah apel, juga dedaun. Dari Made Primaswari Wikandari yang mahasiswi hingga Ni Made Asri S.Sn.
Saya tenggelam dalam keluasan ruang dan jajaran karya. Bergeser dari satu karya ke karya yang lain. Membaca judulnya, mengamatinya sesaat, mencari kaitan judul dan karya itu, menjauhinya. Entah kenapa saya begitu pasif di hadapan lukisan-lukisan itu. Bahkan, di hadapan Puing di Tanah Bali 12 Oktober 2002, karya Diah Yulianti yang didominasi oleh sapuan warna kelam; coklat, hitam dan sedikit bias warna merah dengan noktah-noktah figur tubuh yang melayang dalam warna hitam atau putih. Saya hanya memaklumi bahwa tubuh-tubuh itu adalah korban pembunuhan serangkain terror bom yang memang ditandai oleh judul lukisan itu. Kengerian 12 Oktober justru tumbuh ketika saya berdiri di hadapan tiga figure kerudung coklat. Karya tiga dimensi ini, membangun asosiasi pada diri saya tentang orang yang mengendap-endap tanpa wajah yang jelas, menyusup-nyusup kegelapan untuk sebuah kerja yang tak saya ketahui.
Bangunan imaji ini mungkin lebih disifati oleh kebiasaan nonton film mafia gaya Hollywood. Apa boleh buat. Tapi, setidaknya, kerudung dari kain tebal dan keras warna coklat itu, telah mendedah imaji saya tentang sosok teroris yang meskipun telah ditangkap tetap saja ada sisa ruang untuk meragukan identitasnya. Persis, seperti kerudung tanpa sosok tubuh dari karya itu: Berdiri berjajar tiga dalam komposisi tinggi yang tak rata. Kerudung kosong yang mistis. Angker sekaligus kejam. I Wayan Gawiartha memberinya judul; ?Bali 12 Oktober?. Gawiartha, tak menyebut kata terror, bom, pembunuhan massal, puing. Ia hanya memberikan ancang-ancang, mungkin juga arah. Dan berdiri di depan karya tiga dimensi itu, semacam kecemasan tumbuh bersama risiko malapetaka.
Saya tak yakin penikmatan saya sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan perupanya. Saya juga tak yakin, sebuah karya seni yang bertemakan Bom 12 Okober, harus menerjemahkan perihal ?kengerian.? Saya, seperti juga tak yakin, pesan ?Kebersamaan? yang bagaimana yang ingin disampaikan oleh ulang tahun Sanggar Dewata Indonesia kali ini? Sayup-sayup, dalam kesendirian di keluasan galeri, saya teringat catatan Umar Kayam (Seni Tradisi dan Masyarakat). Dalam suatu perjalanannya ke Kamasan, di Banjar Sangging Kamasan, Umar Kayam mendapati sebuah proses melukis yang kolektif. Sebuah lukisan dengan tema tradisional Kamasan dikerjakan oleh banyak pelukis. Dari tahap membuat skets, mewarna, dan finishing touch, dikerjakan oleh pelukis yang berbeda-beda. Mereka dengan itu menciptakan pakar-pakarnya yang terspesialisasi. Ada yang ahli menyekets, ada yang kemudian ahli mewarna. Tentu, ada satu dua yang bisa menguasai semuanya.
Kayam menandai hadirnya gejala itu sebagai kebersamaan. Kebersamaan kosmos. Kosmos yang ditandai oleh sepetak ruang geografis bernama Kamasan dari dan dalam keluasan Pulau Bali. Kosmos yang ditandai spritualitas religi. Kosmos yang ditandai ingatan kolektif atas dongeng-dongeng semacam Arjuna Wiwaha yang mereka lukis bersama dan begitu akrab dengan mereka. Dan tentu, Sanggar Dewata Indonesia bukanlah petak Kamasan. Di dalam tubuh sanggar Dewata ada orang Ubud, Tabanan, Gianyar, Jagapati, Denpasar: Sebuah tempat yang berserak-serak dari Pulau Bali. Presentasi Kamasan dalam catatan Kayam, pun presentasi dari eksistensi Kamasan dari kurun menjelang 80-an, sedang banyak hal yang bisa dirubah oleh waktu.
Bersama bincang-bincang dua pengunjung lain yang agak jauh dari saya, saya membayangkan ?kebersamaan? ini. ?Kosmos? apa yang menjadi tali ikat mereka? Mungkin ruang, mungkin waktu, mungkin wacana? Mungkin ketiga-tiganya. Mereka dalam ruang dan waktu yang sama. Mereka dalam wacana yang sama: Wacana seni-rupa.
Tapi membayangkan kebersamaan yang dibangun hanya oleh ruang dan waktu sangatlah konyol. Sebuah antrean di depan loket penjualan tiket kereta api, mungkin adalah sebuah kebersamaan. Tapi antara satu orang dan orang lainnya tersimpan permusuhan. Setiap orang bersaing. Masing-masing adalah lawan. Mereka punya tujuan yang sama tapi tidak punya tujuan bersama. Kalau bisa tak ada orang lain dalam antrean itu.
Menjelang pintu keluar saya bertemu dengan sepasang remaja yang masuk. Mereka tak segera terpana pada jajaran karya. Si Cewek sesaat mengedarkan pandangan ke keluasan ruang. Mungkin juga ke berjibunnya karya. Di front desk, iseng-iseng saya bertanya pada penjaga, bagaimana sistem kurasi yang diupayakan? Jawabannya tak ada kurasi.
Siang itu, antara jam 10-12, tanpa lampu galeri yang utuh menyala dan sistem kurasi yang terlembaga, Sanggar Dewata Indonesia kedatangan tamu lima penontonnya. Lima penonton yang mengucapkan selamat ulang tahun ke 32 pada Sanggar Dewata.
Keluar dari Socited Militer saya segera terjebak dengan keriuhan pasar depan gedung kesenian megah itu. Di kiri, kanan, dan tengah jalan pedagang begitu berserak seperti lukisan abstrak yang dibubuhi tanda Sold dengan tulisan tangan dari spidol biru dalam label judul dan media yang dipampang di sampingnya.
|  | | Galeri Socitet Militer, Yogyakarta 25 Januari-3 Pebruari 2003 |
|
 |
|