|
|
 |
| Fusion Strength | | Oleh: Ikun SK |  | Sebuah pertunjukan performance art menjebak persepsi penonton. Untuk menjadi seniman performance art dengan karya yang seakan remeh-temeh perlu tradisi dan sejarah kesenimanan.
Saya bersama seorang kawan, Gendon, berada di halaman Galeri Benda, Yogyakarta, Sabtu malam, 25 Januari., di antara kerumun penonton menanti dengan sabar pembukaan pameran seni pagelaran dan instalasi Fusion Strength. Tepat di depan pintu galeri, empat perupa berdiri. Salah seorang diantaranya, Arahmaiani, sebagaimana biasa saya melihatnya, ia tampil dengan rambut lurus yang dibiarkan tergerai, hem putih berlengan panjang, dan celana jeans. Tempias cahaya temaram menerpa wajahnya. Dengan suara khas ?selalu tertelan dan seksi? ia menjelaskan gagasan karya kelompoknya: Menggandakan uang dari panitia yang hanya satu setengah juta rupiah dan telah dibagi empat.
Gendon yang berdiri di sebelah saya terperangah. Ia berbisik: ?Ini dahsyat. Hebat. Seni memang selalu menggandakan uang. Bahkan dengan cara yang fantastis dan terkadang tak masuk akal. Masih ingat, kan, lukisan Bunga Matahari Van Gogh, yang dibeli perusahaan asuransi Yasuda Jepang dengan harga 65 milyar rupiah? Atau Celeng-nya Pak Pekik??
Saya tak menggubris, tapi sama kagumnya dengan Gendon. Apalagi setelah Arahmaiani mengatakan, dengan konsep itu dia meresin sebagian uangnya: Selembar uang lima puluh ribu dan semata uang logam dilapis resin dengan cara dicor. Dalam bentuk empat persegi panjang seukuran 15X20cm, mata uang itu terlihat sebagai souvenir dalam bidang berwarna bening dari resin tersebut. Yani, panggilan akrab Aramaiani, mengaku dicegah kelompoknya untuk menjadi tukang cukur yang mangkal di bawah pohon di pinggir jalan sebagai upaya menggandakan modal pameran.
Sedangkan Iwan, seniman performance yang populer dengan nama Iwan Tipu, berupaya menggandakan uang dengan menawarkan jasa pijat. Bahkan Iwan memasang iklan di koran dengan mengaku sebagai Pedro Lopez: Penjual jasa pijat rileksesion khusus perempuan dan buka 24 jam. Hasilnya, seorang ibu menelpon Iwan dan ?menawar? jasanya dengan waktu tunda karena suaminya baru ke luar kota beberapa hari lagi. Iwan menolak dengan alasan segera meninggalkan Indonesia. Beberapa pria homoseksual juga sempat menghubunginya. Iwan mencoba mengadakan kencan, tapi ketika tiba saatnya, nyali Iwan menciut dan ngacir dari tempat pertemuan tanpa sempat ngobrol dengan kliennya.
Lain lagi cerita Marzuki. Ia menggandakan uang lewat judi buntut. Berhari-hari Marzuki nangkring di tempat penjual buntut dan ikut memasang nomor tapi hanya menang dua kali. Sedang Jompret berkeliling dengan sepeda menjual jasa karaoke dan bir.
Begitu pameran dibuka, Gendon buru-buru menyusul masuk ke ruang pamer. Di antara pepat penonton, Gendon sesekali mendekat, menyeruak penonton lain, melihat seniman performance art itu. Ia membaca potongan iklan Iwan Wijono yang ditata pada papan dan ditempel di dinding. Ia memandang dengan antusias wajah Iwan yang tersenyum-senyum sebelum mata itu ditutup kaca-mata hitam. Ia melihat ekspresi Arahamaiani yang terkadang ngobrol dengan penonton sambil terus duduk di kursinya, di belakang meja tempat diletakannya uang lima puluh ribu dan sekeping uang logam yang diresin berjajar dengan uang dua puluhan ribu dan sekeping uang logam yang lain, yang juga diresin oleh Hedi, seniman yang dipercaya Arahmaiani.
Gendon terus bergeser. Berganti-ganti menonton, dari tempat Jompet ke tempat Marzuki, balik ke Arahmaiani, menuju Iwan. Lalu bingung dan memilih ke luar. Lalu masuk lagi. Menonton seorang pengunjung yang gagal menyanyi karaoke karena mesin bikinan Jompet ngadat dan Jompet terus mencoba mereparasi karyanya. Menonton lagi Marzuki yang menjadi Bandar Buntut yang dibantu oleh seorang lain sebagai penulis angka-angka yang ditebak pengunjung. Melihat dan mendengarkan ?kemarahan? seorang penonton yang meminta Marzuki melepas peci kopiahnya karena seni Marzuki tidak religius dan kopiah itu penanda religiusitas. Dan penonton itu terpaksa membeli judi buntutan Marzuki agar Marzuki melepas kopiahnya: Sebuah transaksi yang akhirnya terjadi. Sebuah keinginan untuk religius dengan cara tindak yang tidak religius: Membeli judi buntut.
Gendon lalu melihat lagi Iwan Wijono yang terus memijat selama lima menit pada setiap pengunjung yang ingin dipijat dengan bayaran sukarela. Melihat lagi daftar pembeli karya Arahmaiani yang hanya satu orang --dan tidak bertambah-- dengan harga tawaran tujuh ratus ribu seratus rupiah. Menungguinya beberapa saat. Dan bosan karena Arahmaiani tidak segera berteriak-teriak sebagaimana suasana di balai lelang. Gendon pun keluar lagi dari ruang pameran. Tapi, entah kenapa, sebelum sempat kakinya beranjak, sebuah senyum licin menggaris bibirnya. Saya curiga, saya ikuti dia pergi.
Di bawah pohon, sambil memandangi pintu galeri yang terbuka, Gendon menerawang. Entah apa yang dipikirkan. Tiba-tiba dari antara lamunannya, ia mendesis: ?Saya akan jadi seniman performance saja, Mas.?
Saya berpaling. Saya lihat wajahnya yang kalah. Matanya yang sayu. Menurut Budi Darma, Gendon memang sering menulis cerpen tapi cerpen yang jelek. Sering menulis sajak tapi sajak yang jelek. Menulis lakon tapi lakon yang jelek. Menulis skenario tapi skenario yang jelek. Sering menjadi aktor tapi aktor yang jelek. Sering menjadi sutradara teater tapi sutradara yang jelek. Gendon tak pernah punya kesempatan tampil. Karya Gendon tidak ada yang eksis. Diakui. Saya ingin mengatakan sesuatu, semacam: ?Tidak ada yang instan dalam menghasilkan sesuatu. Apalagi karya seni.? Tapi entah kenapa saya tak tega melihat wajah yang kalah itu.
Saya hanya teringat Burhan, seorang tukang cukur di Keajaiban Pasar Senen. Nasib mengantarnya menjadi aktor teater: Ia bersedia digunduli rambutnya untuk menjadi tokoh figuran setelah semua anggota kelompok teater itu menolak dicukur gundul. Seusai pentas, ia kembali dalam profesinya dan menawarkan gaya potongan rambut ala orang Yunani pada seorang sopir truk. Kontan sopir truk itu marah. Betapa untuk melahirkan sesuatu ?walau itu hanya potongan gaya rambut? dibutuhkan sejarah menjadi tukang cukur. Dan Gendon?.
Ia tak punya sejarah sebagai perupa. Ia hanya seorang penyair yang gagal, sastrawan yang tak kunjung berhasil melahirkan karya.
|  | | Artikel ini ditulis untuk News Letter SURAT YSC vol. 14 |
|
 |
|