|
|
 |
| Pesan Dalam Sebuah Berita Yang Tak Baru | | Oleh: Iman Sutejo - tedj2002@yahoo.com |  | Goresan spontan seniman yang diilhami dari fakta, disertai dengan emosi seniman yang dituangkan dalam sebuah media akan menampakkan sebuah impresi. Gelap terang, kuatnya emosi akan terlihat dalam hasil yang dituangkan dalam media tersebut. Menghadirkan sketsa-sketsa sebagai medium untuk menyampaikan makna yang terlihat maupun yang tak terlihat adalah sebuah kerja yang "berat" bagi seniman.
Sketsa, dalam kurikulum pendidikan adalah "basic" untuk pengembangan dalam melukis, seorang mahasiswa sebelum sampai pada teknik melukis harus melampaui/ menguasai sketsa. Menghadirkan sketsa untuk memaknai gejala-gejala sosial yang tumbuh, diperlukan keberanian dan naluri yang tinggi untuk menangkap gejala-gejala yang ada, perkembangan teknologi dalam kaitan dengan perkembangan teknologi kamera digital menjadi alternatif untuk sebuah kerja yang diyakini lebih efektif dan praktis dalam menghadirkan visual. Dan di sini kita menghadirkan sebuah sketsa-sketsa untuk membingkai potret sosial, bisa mengandung pesan yang berharga (worthwhile message). pesan atau maksud (message content) di harapkan bukan hanya sebuah berita (news content). Sehingga sketsa sebagai media bisa menyampaikan makna atau isi dan punya nilai artistik melalui goresan tangan juga berita baru
Sebuah sketsa bisa dikategorikan sebagai naratif representative dan abstrak ekspresif . Yang pertama, bertujuan untuk menyampaikan sebuah cerita dan mengandung dialog dengan pengamat secara intelektual maupun visual, sementara yang kemudian, pesan atau ceritanya jika ada, menjadi hal yang kedua dan bertujuan untuk menyebabkan pengaruh estetik pada pengamat . Pameran ini mengangkat tema Sungai Code sebagai ikon sebuah permasalahan sungai kota yang menjadi pusat dari kaum urban untuk bermukim dan bertempat tinggal mencari mata pencaharian di pusat-pusat kota. Sketsa yang dihadirkan kali ini berusaha menceritakan sepanjang sungai Code dengan segala atributnya dan jika dalam sketsa tersebut mempunyai nilai estetik itu karena jiwa yang ada dari perupanya.
Inoccent. Pameran sketsa ini diselenggarakan bukan tanpa sebab atau secara kebetulan namun direncanakan dan mempunyai maksud tujuan. Sketsa ini hadir tidak semata dari segi artistic saja yang ingin dicapai namun "content"yang ada dalam sketsa itu banyak menyiratkan tentang femonena kehidupan kaum urban yang ada di pinggir sungai di sebuah kota. Jogjakarta yang berslogan "Yogyakarta Berhati Nyaman " akan berubah makna menjadi " Yogyakarta Berhati Code " . Sketsa di sini di samping punya nilai lebih namun ada kekurangannya keterbatasan warna , sketsa adalah gelap dan terang dalam satu warna, kaitan dengan air sungai yang dihadirkan dalam sketsa di sini tidak bisa mencerminkan mana air kotor dan bersih. Sehingga yang muncul antara hulu dan muara sama saja, sedangkan yang terjadi lebih dari itu perubahan warna dan bau yang lain pula. Semakin kea rah muara akan kelihatan menjadi keruh apabila di hulu terjadi pembuangan limbah secara sembarangan. Sehingga menimbulkan dampak pada air sungai di samping menjadi keruh juga kotor oleh berbagai sampah dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Dengan menghadirkan sketsa ini juga sebagai "warning" untuk kota-kota lain yang mempunyai sungai di tengah kota.
Sungai akan punya nilai dan fungsi lain antara sungai yang berada di pegunungan dengan di tengah-tengah kota . Yang pertama, sungai identik dengan jernih air, alami dan sebagai pengendali banjir juga sebagai sumber kehidupan, lain hal dengan yang kedua akan menjadi malapetaka bagi masyarakat sekitar bila yang terjadi pembuangan sampah secara sembarangan pembangunan diareal sungai yang tidak teratur . Namun Sketsa di sini lebih dari sketsa permainan gelap dan terang dalam satu warna yang membawa pesan. Permasalah yang sering timbul di pinggiran sungai tengah kota adalah tanggung jawab kita semua (masyarakat) dan juga instansi yang terkait dalam pengelolaan perkembangan tata kota.
Sepenggal sajak tentang Kali code dari penyair Ikun SK akan menutup tulisan ini. Yang tentunya di dalamnya memuat "beribu makna " sebagai pesan terakhir.
"betapa indah memandangi matamu
dalam lelap dalam selimut malam
seribu puisi mengucur nanah
terbentang tanpa kata
lalu angin menyingkir
menggenggam kidung moyangmu
menambatkannya pada ceruk cakrawala
paginya kau bangun
dan berjalan
tanpa doa"
|  | | Artikel pengantar untuk pameran sketsa KMS di Kantor Harian Bernas, 18-22 Agustus 2003 |
|
 |
|